Posts Tagged ‘Facebook’
Jangan Kutip Roy Suryo
Dua tahun yang lalu, gerakan “Jangan Kutip Roy Suryo” sempat ramai mewarnai jagad blogosphere. Bisa dimaklumi karena pada waktu itu terjadi persinggungan yang cukup sengit. Pada waktu itu, situs Depkominfo kena hack dan terpampang gambar Roy Suryo. Diapun berang dan langsung menuduh pelakunya adalah blogger dan hacker. Para blogger pun mengajak Roy Suryo berdialog untuk meluruskan masalah. Akhirnya tibalah waktu bersejarah itu, debat antara Roy Suryo dengan Blogger yang digelar di Universitas Budi Luhur (11/4/08). Selain diskusi terbuka dengan blogger, diadakan juga diskusi UU ITE di Radio Trijaya. Tetapi sepertinya ini tidak bisa mengubah pemahaman Roy Suryo terhadap perbedaan makna blogger, hacker dan cracker.
Nokia N86 untuk Mobile Imaging
Ilustrasi Nokia N86 (model : tyo)
Pada mudik lebaran beberapa waktu yang lalu, saya mendapat pinjaman dari Nokia untuk mencoba salah satu ponsel mereka agar bisa dicoba selama di kampung halaman. Selain saya, ada beberapa teman yang juga mendapat pinjaman. Hanya pinjaman, bukan pemberian, jadi harus dikembalikan. Tapi lumayanlah bisa mencoba ponsel bagus sambil dipamerin ke teman-teman di kampung
. Dalam hal ini, saya kebagian ponsel tipe Nokia N86. Mungkin ada sebagian teman-teman yang belum tahu mengenai Nokia N86, jadi perlu kiranya saya beri overview mengenai ponsel ini.
N86 adalah ponsel andalan Nokia untuk kategori kamera. Dalam arti ponsel ini dirancang dioptimalkan sebagai perangkat mobile imaging, disamping fungsi utama sebagai alat komunikasi tentunya. Nokia N86 memiliki sensor kamera 8 megapiksel. Dibanding dengan vendor lain, Nokia termasuk terlambat dalam menghadirkan ponsel dengan resolusi sebesar itu. Karena vendor lain sudah jauh lebih dulu meluncurkan resolusi sebesar itu. Bahkan Sony Ericsson dan Samsung saat ini sudah memiliki ponsel dengan kamera 12 megapiksel. Sementara dari Nokia sendiri belum ada kabar kapan meluncurkan ponsel kamera 12 megapiksel.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Mungkin itu prinsip yang dianut Nokia khususnya dalam hal kamera ini. Karena datang belakangan, maka beban yang dibawa pun cukup berat. Yaitu sebisa mungkin lebih baik dari yang sudah ada di kelas yang sama. Usahanya tidak sia-sia, beberapa penghargaan pun telah diraihnya. Diantaranya adalah penghargaan dari 2009 TIPA Awards untuk kategori Best Mobile Imaging Devices. TIPA (Technical Image Press Association) Award adalah penghargaan independen yang prestisius untuk industri imaging di Eropa.
Ponsel yang berjalan di atas platform Symbian S60 v3 ini memiliki lensa f/2.8 Zeiss wide-angle zoom. Diperkuat dengan fitur seperti centre weighted exposure, 1/1000 sec. shutter speed, multimode flash dan beberapa mode scene dengan macro sampai 10 cm. Belum lagi kecanggihan teknologi komunikasi dan lokasi. Setelah mengetahui seluk beluk fitur yang ada di dalamnya, saya pun siap membawanya menemani selama libur lebaran. Karena memang selain dipinjami, saya mendapat “tugas” untuk merasakan experience dari ponsel ini. Mengoptimalkan fitur yang ada dan kemudian mempublikasikan ke teman-teman.
Hal yang dicoba pertama kali tentu saja adalah kamera. Mengaktifkan fungsi kamera sangat mudah, yaitu dengan menggeser ke bawah penutup lensa yang ada di body bagian belakang. Sesudah lensa terbuka, maka user interface kamera akan aktif lengkap dengan menu-menunya. Jika tidak ada waktu atau belum bisa mengatur menu, kita bisa langsung memotret yang berarti menggunakan modus Auto. Dan tentu saja hasilnya akan lebih maksimal jika setting diatur terlebih dahulu. Apalagi mengaturnya juga tidak sulit. Misalnya untuk mengambil gambar pemandangan (landscape), tinggal mengakses ikon Scene dan memilih modus Landscape. Contohnya seperti gambar di bawah ini yaitu Jalan Sudirman, Jakarta yang sedang sepi karena ditinggal warganya pulang kampung. Gambar tersebut saya ambil pagi sekitar jam 7 tanggal 19 September 2009 atau sehari sebelum Idul Fitri.

Jendral Sudirman Statue @ Sudirman Street (Camera : N86; Mode : Landscanpe; Album : tinypic.com/a/1cehg/2)
ketika Raksasa Online Mulai Tertarik Mencicipi Kue di Indonesia

Ilustrasi Yahoo dan Google. (daily-seo.com)
Pelanggan telekomunikasi di Indonesia sekitar 120 juta subscriber dan pengguna internet lebih dari 25 juta. Sementara itu jumlah penduduknya saja lebih dari 200 juta. Tentu hal ini merupakan peluang yang sangat besar bagi vendor global untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial. Yahoo! Asia yang berkantor di Singapura akhir-akhir ini terlihat gencar melakukan serangkaian program di Indonesia termasuk mendekati warnet-warnet. Tidak salah Yahoo! mendekati warnet karena tempat publik ini merupakan salah satu tempat pengakses internet tertinggi selain perkantoran. Konten lokal juga semakin diperkuat dengan menggandeng media seperti Detik.Com, Kompas, Antara, SCTV dan KapanLagi.
Nah, bagaimanakah dengan Google? Apakah perusahaan yang besar karena mesin pencari ini diam saja melihat Yahoo! melenggang di Indonesia? Ternyata tidak. Google bahkan melangkah lebih jauh dengan membuka kantor cabang di Indonesia. Read the rest of this entry »
Buat Website Menjadi Aplikasi Desktop dengan Prism atau Chrome
Jaman memang semakin instant. Hal ini berlaku hampir ke semua hal, termasuk browsing. Dulu, untuk browsing mengunjungi situs favorit semacam Facebook atau lainnya, kita harus melewati beberapa langkah terlebih dahulu. Menjalankan browser, mengetik alamat homepage di address bar, setelah itu baru tekan tombol [enter]. Cukup bertele-tele dan bagi yang memiliki waktu terbatas terasa cukup merepotkan.
Ternyata beberapa developer yang baik hati dan suka menolong cukup sensitif membaca keresahan itu. Mereka-mereka ini adalah Yayasan Mozilla, Google dan Adobe. Mozilla mengembangkan proyek Prism, Google mengembangkan browser Chrome yang aplicable dan Adobe lewat AIR. Di sini saya akan membahas Prism dan Chrome saja karena AIR tidak begitu saja mengubah suatu web menjadi aplikasi website. AIR lebih ditujukan kepada pengembang website sedangkan Chrome dan AIR untuk pengguna kebanyakan, sehingga cara menggunakannya lebih simpel.
Mozilla Prism

Prism bisa diunduh di website Mozilla Labs. Tapi bagi yang sudah menginstall Mozilla Firefox cukup install add-ons saja. Anggap saja semua sudah install Firefox, sehingga yang diperlukan hanya memasang add on Prism. Setelah terpasang, pada menu Tools terdapat item Convert Website to Application. Dari situ, kita bisa membuat aplikasi desktop untuk semua situs seperti Facebook, Plurk, Gmail dan sebagainya. Untuk menjalankan aplikasi tersebut, tinggal mengklik ikon yang terdapat di desktop, start menu atau quick launch. Bagi pengguna Windows, Anda akan melihat ikon-ikon aplikasi website tersebut di systray yang biasanya terletak di kanan bawah. Ketika jendela aplikasi ditutup, aplikasi ini tetap running.
Google Chrome

Google Chrome yang baru saja diluncurkan beberap waktu lalu langsung menyertakan fitur ini. Jika ingin membuat suatu website menjadi aplikasi desktop, kita tinggal mengklik kontrol halaman dan di situ terdapat item Buat Lintasan Aplikasi. Berbeda dengan Prism, Chrome ini belum mendukung ikon di systray. Dengan demikian, jika jendela aplikasi ditutup, maka aplikasi ini sudah tidak running.
Yang lebih asyik lagi, jika suatu website mendukung teknologi Google Gears, maka kita bisa membaca seluruh isi website tanpa perlu koneksi internet.
Ahhh, mereka memang baik hati. Semakin memanjakan pengguna internet dengan mengembangkan berbagai layanan yang semakin memudahkan dan mempercepat. Tapi…. apa ya yang sudah kita lakukan selain hanya sebagai pengguna.
Layanan Web 2.0 yang Makin Meriah
Era Web 2.0 ternyata masih sangat menarik dan semakin ramai. Entah kapan akan era ini akan berakhir dan berganti menjadi Web 3.0. Mungkin saja transisi ke era web generasi mendatang itu terjadi begitu saja tanpa kita rasakan. Mungkin dulu kita mengenal layanan sosial networking hanya Friendster dan MySpace. Setelah cukup lama Friendster digandrungi para muda bahkan hingga sekarang ini, muncul lagi layanan sosial networking baru yang saat ini sedang disukai banyak pengguna internet yaitu Facebook. Facebook hanya salah satu layanan social networking diantara puluhan mungkin ratusan layanan sosial yang hadir di jagad maya.
Indonesia tak mau kalah. Beberapa provider juga merilis layanan sosial untuk kelas lokal seperti KL Face yang saat ini cukup gencar berpromo. Sayangnya, penggunaan nama produk Face terkesan meniru Facebook walaupun dari segi tampilan dan mungkin isi didalamnya berbeda.
Read the rest of this entry »


