mrbambang

Catatan kecil dalam perjalanan selama mengembara di fatarmogana dunia

Archive for the ‘Opini’ Category

Semakin Ngepres di Hari Press

with 17 comments

Wartawan

Agak ironis memang, tapi itulah yang terjadi. Tadi saya baru menerima press release yang disebar melalui salah satu milis media. Seperti ini isinya.

Ketua SPS Telantarkan

Karyawan Indonesia Business Today

JAKARTA — Sungguh ironis, konglomerat pers yang juga ketua Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS), Dahlan Iskan, ternyata menelantarkan karyawannya. Itulah yang terjadi pada Harian Indonesia Business Today. Koran yang dimiliki oleh Dahlan Iskan tersebut, mulai Kamis (5/2) menghentikan kegiatannya.

Penghentian penerbitan tersebut merupakan puncak kekecewaan para awak Indonesia Business Today kepada Dahlan. Di antara kekecewaan tersebut adalah belum dibayarnya gaji karyawan. Karyawan sendiri sebenarnya sudah mencoba menuruti kemauan Dahlan yang mencoba melakukan efisiensi dengan mengubah koran yang berdiri sendiri menjadi sisipan di Indo Pos.

November 2008, di kantor Indonesia Business Today, di kawasan Fatmawati Jakarta, Dahlan mengatakan bahwa kondisi ekonomi dunia yang sedang dilanda krisis pasti akan mengimbas ke Indonesia. “Sebelum krisis melanda, kita harus sudah mengantisipasinya,”ujar Dahlan ketika itu.

Karena itulah, lanjut Dahlan, ”Kita harus melakukan upaya agar tidak tergilas oleh krisis.” Solusi yang ditawarkan oleh Dahlan adalah melakukan penggabungan dua koran, yakni Indonesia Business Today dengan Indo Pos. Penggabungan itu dilakukan dengan pertimbangan bahwa masing-masing punya kelebihan. Indonesia Business Today kuat di rubrik-rubrik ekonomi, sementara Indo Pos, katanya kuat di politik.

Jika kelebihan-kelebihan itu digabungkan, tentu akan menghasilkan produk atau koran yang unggul di semua lini. Sehingga diharapkan, sinergi tersebut bisa menjadi senjata yang ampuh untuk memenangkan persaingan media cetak yang makin tajam belakangan ini.

Ketika ide itu dilontarkan, banyak karyawan Indonesia Business Today yang merasa resah. Karena bukan tidak mungkin jika itu dilakukan, pasti akan mengurangi jumlah karyawan. Hal itu bukan tanpa alasan. Soalnya, bagaimana mungkin mempertahankan jumlah karyawan yang ada sementara jumlah halaman yang harus dikerjakan dipotong hanya tinggal sepertiga. Yaitu dari 24 halaman menjadi hanya 8 halaman saja. Selain itu, divisi sirkulasi dan iklan juga akan disatukan.

Mulai Penggabungan

Rencana itu pun, mulai dijalankan. Beberapa kali rapat koordinasi dilakukan antara pihak Indo Pos dengan Indonesia Business Today. Nama-nama karyawan yang akan dipekerjakan dalam kerjasama ini pun mulai dibahas, termasuk berapa mereka akan menerima gaji.

Alangkah kagetnya para awak redaksi Indonesia Business Today ketika mendengar usulan dari Indo Pos, bahwa gaji karyawan Indonesia Business Today akan dipotong dengan besaran yang tidak tanggung-tanggung. Dalam kerjasama tersebut, awak Indonesia Business Today akan dipotong gajinya antara 20 persen sampai 50 persen. Bahkan ada yang diturunkan posisinya dari redaktur menjadi reporter dengan potongan gaji hingga 70 persen. Selain itu, dari sekitar 130 karyawan yang ada, hanya 28 yang akan diterima menjadi bagian koran Indo Pos baru tersebut. Mereka adalah awak redaksi semua.

Tentu saja usulan tersebut sangat memukul para awak Indonesia Business Today. Manajemen mengusulkan agar Indonesia Business Today ditutup, dengan pemberian hak yang seharusnya diterima karyawan. Sebab, dengan hanya 28 orang yang “diangkat” sebagai karyawan percobaan di Indo Pos artinya Indonesia Business Today sudah mati.

Dalam pertemuan 30 Desember 2008, antara Komisaris Utama PT Indonesia Business Today Dahlan Iskan dengan Direktur Utama PT Indonesia Business Today Nanik S Deyang, disepakati Indonesia Business Today tetap terbit namun jadi sisipan Indo Pos. Tidak ada pemutusan hubungan kerja. Namun, gaji karyawan direvisi dengan potongan 10 persen hingga 25 persen, sesuai posisi karyawan. Maka, sejak 5 Januari 2009, resmilah Indo Pos cetak 32 halaman dengan 8 halaman Indonesia Business Today.

Meski dikatakan tidak ada pengurangan karyawan, namun dengan 8 halaman tersisa mau tidak mau tetap ada karyawan yang diberhentikan, baik redaksi maupun terutama nonredaksi. Pada Januari 2009 ini, ada 76 karyawan redaksi dan nonredaksi di-PHK tanpa pesangon.

Rupanya, kesepakatan hanya tinggal kesepakatan, karena Dahlan Iskan sama sekali tidak menepati janji. Akhir Januari 2009, para awak Indonesia Business Today ternyata tidak menerima gaji seperti yang dijanjikan. Sepekan sebelum tanggal gajian, manajemen sudah menghubungi Dahlan Iskan, namun tak pernah sekali pun dijawab.

Pada hari Senin, 2 Januari 2009, pihak Indo Pos menginformasikan bahwa mereka hanya membayar gaji 28 orang yang pertama kali mereka “minta bergabung di Indo Pos”. Sementara karyawan lain, termasuk awak produksi yang me-layout Indonesia Business Today, tidak diberi gaji. Tentu saja hal ini ditolak, karena kesepakatan 30 Desember 2008 dengan Dahlan Iskan tidak demikian. Dahlan Iskan sendiri tak bisa dihubungi. Telepon tak diangkat, SMS tak dijawab.

Tanggal 4 Februari 2009, karyawan meminta direksi untuk memberi kepastian, apakah bulan Febuari ini karyawan yang bekerja tetap akan digaji. Direksi tidak berani memberi kepastian, karena gaji bulan Januari saja belum dibayar. Bahkan, hingga Sabtu, 7 Februari 2009, tak sepeser pun dana dari Dahlan Iskan maupun Indo Pos yang dikirimkan.

Karena direksi tak memberi kepastian, karyawan pun memutuskan untuk mogok tidak bekerja. (*)

Informasi lebih lanjut:

Wahid Rahmanto

(Ketua Forum Karyawan Indonesia Business Today)

Saya pernah dengar ada pameo yang walaupun mungkin tidak sepenuhnya benar mengatakan, “kalau ingin kaya, jangan jadi wartawan“.  Profesi wartawan memang tidak menjanjikan harta menggiurkan seperti yang lain.  Maka dari itu, berfikir ulanglah jika mau menjalani profesi ini :D .

Written by mrbambang

February 10, 2009 at 1:53 am

Barack Husein Obama

with 21 comments

Baru saja saya pulang dari STARBUCKS Sarinah, diajak ngopi sama rekan kerja. Di warung kopinya Amerika ini tidak ada sesuatu yang istimewa. Seperti biasa saja (padahal saya juga baru pertama kali ke situ). Berbeda dengan suasana di negara asalnya sana yang begitu gegap gempita. Setidaknya begitu yang saya lihat di televisi sesampainya di kost.
Sayang sekali ketika baru saja menghidupkan tv, Obama baru saja selesai pidato. Walaupun mungkin kalau melihatnya dari awal, tetep saja gak mudeng :D .
Beruntunglah di beberapa stasiun TV ada bincang-bincang dengan narasumber yang membahas mengenai peresmian Obama sebagai presiden ke 44 Amerika Serikat ini.
Saya secara pribadi meskipun bukan warga Amerika mengucapkan selamat atas resminya Obama sebagai Presiden. Tapi sesuai dengan pesan narasumber di televisi, jangan Over Optimistik terhadap Obama. Ada juga hal krusial yang tidak dibicarakan Obama tadi. Jadi ya, biasa ajalah…

*siap-siap menutup Opera Mini di P1i dan menuju alam mimpi. Siapa tahu ketemu Obama di sana*

Written by mrbambang

January 21, 2009 at 1:10 am

Posted in Opini

Tagged with

Hadiah Tahun Baru

with 22 comments

Save Palestina

Seperti sudah kita ketahui bersama di berbagai media massa, bahwa sejak Sabtu (27/12), Israel terus-menerus mebombardir jalur Gaza Palestina. Lebih dari 300 orang gugur dan ribuan lainnya luka berat. Semuanya mencakup warga sipil termasuk diantaranya anak-anak dan perempuan. Selain menewaskan ratusan orang, Zionis juga menghancurkan fasilitas umum seperti masjid, universitas dan sebagainya.

Itulah hadiah tahun baru spesial dari Zionis Israel kepada muslim di Palestina. Bahkan tidak hanya yang di Palestina, seluruh umat Islam di dunia ikut merasakan sakit. Umat manusia yang beradab di berbagai belahan dunia mengutuk perbuatan ini.

Menyedihkan memang, di saat-saat kebanyakan manusia akan merayakan tahun baru dengan berbagai cara, saudara-saudara kita bertahan antara hidup dan mati. Beberapa saudara kita di Indonesia ada yang berniat menjadi relawan ikut berjuang ke Palestina. Kita patut salut kepada mereka. Walaupun bentuk kepedulian atau solidaritas itu tidak melulu harus pergi ke sana. Kita bisa ikut memberikan bantuan berupa sumbangan dana atau yang lainnya karena para warga di Palestina juga sangat membutuhkan hal ini. Paling minimal adalah, kita mendoakan saudara-saudara kita di Palestina.

Beberapa lembaga membuka layanan penerimaan bantuan donasi untuk Palestina, salah satunya adalah Dompet Dhuafa seperti yang terlihat pada banner di atas. Yuk, kita ikut memberikan “hadiah” tahun baru kepada Palestina dengan menyumbang dana seikhlasnya :)

Selamat tahun baru 2009. Semoga menjadi tahun yang penuh dengan kedamaian :)

Update :

Alternatif donasi kemanusiaan untuk Palestina :

1. Dompet Dhuafa Republika an. Dompet Dhuafa Republika
- Bank Muamalat rekening 301 002 1815
- BNI cab. Fatmawati rekening 000 529 9527
- BCA cab. Pd. Indah rekening 237 300 6343

2. Aksi Cepat Tanggap (ACT) an. Aksi Cepat Tanggap
- BCA rekening 676 030 0860
- Bank Syariah Mandiri rekening 101 000 5557
- Permata Syariah rekening 0971 001224
- Muamalat rekening 304 0023 015

3. KNRP an Komite Nasional untuk Rakyat Palestina
- BCA No. 760-032-5099
4. KISPA - Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina
Bank Muamalat Cab. Slipi No. 311-018-5622 an Nurdin qq Kispa

5. MER-C
Donasi via SMS, Ketik : MERC PEDULI kirim ke 7505 untuk memberikan donasi Rp 5000/SMS.

Written by mrbambang

December 31, 2008 at 1:47 pm

Posted in Opini

Dana ZIS Rp. 19,3 Triliun Itu Masih Belum Mampu Tuntaskan Kemiskinan

with 18 comments

http://www.ydsf.or.id/webmaster/images/sebar%20bunga%20zakat%201428%20h.jpg

Demo zakat di BHI. sumber gambar : http://www.ydsf.or.id

Ternyata, nilai orang yang melakukan zakat infaq dan shodaqoh (ZIS) di Indonesia terbilang sangatlah besar. Nilainya cukup mencengangkan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), potensi zakat di Indonesia mampu mencapai Rp19,3 triliun!

Jumlah sebesar ini tentu bertolak belakang dengan kondisi perekonomian mengenaskan yang dialami oleh jutaan umat muslim di Indonesia.

Hanya saja, potensi penghimpunan dana tersebut hingga saat ini masih belum optimal. Hanya sekitar 5 – 7 persen saja yang mampu diserap oleh lembaga-lembaga filantropi modern atau di kisaran Rp1,3 triliun saja. Dana tersebut oleh lembaga-lembaga tersebut biasanya akan dikelola secara modern yang digunakan untuk pemberdayaan ekonomi umat. Selain itu, menurut CSRC UIN Syarif Hidayatullah, aset wakaf yang mencapai Rp. 590 triliun pun sebagian besar masih untuk membangun komplek makam dan masjid mewah di tengah pemukiman kumuh.

Trus, 90 % lebih dana ZIS tersebut lari kemana? Tidak, tidak dikorupsi, paling saya belum mendengar kasus ini muncul di permukaan. Nilai yang jauh lebih besar yaitu dana 90 persen itu disalurkan oleh masyarakat secara langsung kepada masyarakat miskin yang membutuhkan. Ironisnya, bantuan secara langsung ini tidak akan mampu meningkatkan taraf hidup, malah cenderung memberikan efek ketergantungan dan melestarikan kemiskinan itu sendiri.

Salah satu contoh real adalah pembagian zakat yang dilakukan oleh orang kaya di Pasuruan Ramadhan silam. Zakat yang dibagikan kepada ribuan penduduk yang masing-masing orang hanya mendapat Rp. 30 ribu itu berakhir dengan kericuhan yang membuat 21 warga tewas. Tragedi yang sangat memilukan sekaligus memalukan. Pemberian zakat seperti ini sepertinya juga terbukti sangat tidak efektif.

Memang, tidak ada yang melarang untuk berzakat seperti itu dengan memberikan langsung kepada penerima zakat atau mustahik. Tapi jika zakat yang seharusnya bisa digunakan untuk memperbaiki ekonomi umat ini ternyata tidak mampu berbuat demikian, apakah tidak lebih baik berzakat atau beramal yang produktif.

Sering juga kita melihat di jalan-jalan, orang yang meminta sumbangan untuk pembangunan masjid. Mereka berada di tengah jalan, membuat kenyamanan berkendaraan jadi terganggu, ada juga yang masuk ke kendaraan umum maupun berkeliling ke rumah-rumah. Dari acara investigasi yang pernah saya lihat di televisi, ada sebagian dari mereka ini yang mengatasnamakan pembangunan masjid padahal untuk dipakai sendiri, walaupun ada juga memang yang benar-benar untuk pembangunan masjid.

Entahlah, mengapa kok sepertinya umat itu rajin sekali membangun masjid. Jaraknya kadang tidak berjauhan. Masjidnya indah-indah yang ironisnya kadang dibandung di tengah pemukiman kumuh. Mungkin saja ini karena memang ada perintah memakmurkan masjid. Tapi apakah memakmurkan masjid selalu identik dengan masjid yang mewah dan megah?

Apakah tidak lebih baik untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat? Sayang sekali dana sebesar Rp. 19.3 Triliun itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Andaikan dikelola dengan baik untuk pemberdayaan ekonomi umat. Insya Allah negara ini bisa keluar dari krisis ekonomi dengan cepat tanpa perlu minta bantuan dari asing. Juga tidak perlu takut terhadap krisis ekonomi yang menimpa Amerika.

Written by mrbambang

October 17, 2008 at 4:27 pm

Posted in Opini

Merokok itu….

with 51 comments

Kepada perokok, sebelumnya saya haturkan mohon maaf jika gambar yang ditampilkan ini mungkin agak sedikit menyinggung atau menyungging. Bukan! Bukan saya yang menggambar, karena saya bukan ahli menggambar pake Photoshop dan sejenisnya. Bisanya hanya makan Soto dan Sop, tapi bukan Sotosop. Gambar ini saya dapatkan dari email yang dikirimkan teman via milis :)
Read the rest of this entry »

Written by mrbambang

July 23, 2008 at 9:52 am

Posted in Opini

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.