Archive for the ‘Intermezzo’ Category
Belum Menentukan Pilihan
Euphoria kampanye sedang berlangsung. Para calon wakil rakyat memasang muka dan janji paling manis untuk menarik simpati. Semua calon legislator memberikan janji yang baik-baik. Akan begini, begitu, begono. Berbeda dengan Pemilu 2004, saya sudah mantap menentukan pilihan pada waktu itu.
Tapi untuk Pemilu 2009 ini. Sampai sekarang saya masih belum mementukan pilihan. Entahlah. Rasanya kok seperti sudah muak. Eneg aja melihat begitu banyaknya gambar caleg yang terpasang di dinding, pohon, jalan, tipi, internet dan sebagainya. Bukannya menjadi cantik, tapi kampanye malah menambah kotor, menambah sampah, menambah jelek wajah kota. Semoga saja mereka-mereka yang nanti terpilih tidak mengotori Senayan dengan kelakuan-kelakuan ga benernya.
Mungkin sampeyan bisa memberikan rekomendasi atau kampanye di sini? Silahkan. Biarlah nanti saya memutuskan
Selamat Hari Raya Idul Adha 1429
Perayaan lebaran Idul Adha kali ini terasa agak berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Hari raya kurban ini berlangsung di tengah situasi krisis global yang terasa sangat berat bagi sebagian orang. Beberapa media menulis bahwa karyawan yang terancam terkena PHK seluruh Indonesia akhir tahun ini bisa mencapai 60.000 orang, angka yang sangat besar. PHK dilakukan oleh perusahaan yang sebagian besar bisnisnya berhubungan dengan ekspor impor. Harga dolar yang melangit menjadi penyebabnya.
Angka kemiskinan mungkin bakal bertambah. Entahlah bagaimana nasib yang terkena PHK. Sebagian mungkin cari kerja seadanya, sebagian menjadi wiraswasta, sebagian menjadi pengangguran.
Ya, setiap manusia pasti akan pernah merasakan ujian. Mungkin ini sungguh berat. Tapi sebenarnya juga masih banyak yang jauh lebih berat, nasibnya lebih mengenaskan ketimbang kita. Para nabi dan rasul, mereka berani mengorbankan segalanya demi cintanya kepada Allah dengan menyebarkan risalahnya. Ibrahim menerima ujian bertubi tubi, salah satu yang paling berat adalah perintah menyembelih anaknya. Kemudian Allah menggantinya dengan kambing dari surga, karena Ibrahim telah lulus ujian berkorban.
Saat ini, muslim yang sudah mampu menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Semoga saudara kita di sana menjadi haji mabrur, doanya untuk Indonesia terkabul. Kemudian umat Islam yang di sini, yang merasa mampu juga ikut berkurban menyumbangkan kambing atau sapi yang dagingnya dibagikan kepada sesama.
Semoga momen Idul Adha seperti ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya menjaga ukhuwah, tali silaturahmi, meningkatkan kepedulian antar sesama. Kita bisa bahu membahu, bekerja sama, bersinergi sehingga Islam bisa semakin kokoh bersatu, Indonesia juga bisa terus bangkit dengan kekuatan swadaya, tanpa bantuan dari asing.
Selamat Hari Raya Kurban Idul Adha 1429 H.
*tutup browser opera mini, bergegas tidur biar besok bangun pagi untuk Sholat Ied*
Novel Terakhir Maryamah Karpov
Film Laskar Pelangi yang sukses besar dengan jumlah penonton mencapai 3,9 juta membuat buku-buku tetralogi Laskar Pelangi semakin laris manis. Sempat terkena gosip beberapa waktu yang lalu tidak menyurutkan film tersebut dan bahkan Andrea Hirata penuh percaya diri meluncurkan novel terakhirnya pada tetralogi Laskar Pelangi yaitu Maryamah Karpov tanggal 28 November kemarin.
Meskipun tidak mengikuti launchingnya di MP Bookpoint Cipete bersama teman-teman lainnya, saya masih beruntung bisa melihat talkshow Andrea Hirata pagi harinya di TV One. Tidak banyak yang diceritakan Andrea Hirata mengenai novel ini karena mungkin waktu yang terbatas yaitu 30 menit dikurangi iklan dan juga untuk semakin menambah penasaran pecinta novelnya.
Rasa penasaran ini memang cukup menghantui sehingga ketika siang hari sedang berangkat ke lapangan, saya menyempatkan dulu mampir ke Toko Trimedia Bookstore di Mal Ambasador. Dengan harap-harap cemas semoga bukunya belum kehabisan, saya pun dengan cepat-cepat menuju ke toko itu. Baru masuk ke pintu toko, saya sudah disambut dengan puluhan, mungkin ratusanĀ Novel Maryamah Karpov yang tertata rapi di rak depan, sangat mencolok. Di belakang novel Maryamah Karpov, terjajar juga buku tetralogi sebelumnya seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor.
Isi novel yang dijanjikan mengaduk-aduk perasaan dengan tawa dan tangis ini seperitnya akan menjadi best seller sampai beberapa bulan ke depan. Apalagi marketing gimmick dari penerbit bekerjasama dengan toko buku terbilang cukup bagus. Penjual buku bajakan yang beredar di pinggir jalan, jembatan ataupun Senen juga akan menikmati berkahnya. Read the rest of this entry »
Pilih Tarif yang Mana?

Brosur Perbandingan Tarif yang dibuat oleh Simpati. sumber : milis
Beberapa hari terakhir ini, telekomunikasi Indonesia sedang ramai mempermasalahkan pembakaran spanduk operator terbesar yang disinyalir dilakukan oleh operator pesaingnya.
Persaingan antar operator telekomunikasi memang sudah semakin tidak sehat. Misalnya ada iklan yang isinya hanya menyontek operator lain sampai ada yang mengejek atau menjatuhkan operator lain dan sebagainya.
Sebagian pihak menganggap peperangan ini ibarat “Gajak Berkelahi Pelanduk Mati di Tengah”. Sementara ada juga sebagian yang menganggap bahwa peperangan atau persaingan antar operator ini malah menguntungkan karena tarif yang semakin murah, walaupun kualitasnya memburuk. Untuk itu pelanggan perlu menuntut adanya Quality of Service. Padahal yang paling dibutuhkan oleh pelanggan adalah kelancaran berkomunikasi. Ga ada artinya juga jika tarifnya murah, tapi menjadi susah menghubungi atau telepon sebentar putus lagi.
Pernah ada sentilan yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat menyenangkan untuk dijadikan coba-coba, karena perlindungan terhadap konsumen sangat minim. Jadi jika operator seenaknya saja bikin promosi tanpa memperhatikan kesiapan jaringannya, itu sangatlah wajar.
Dari salah satu milis yang saya ikuti, seorang rekan dari Surabaya menyebutkan bahwa di tempatnya itu sejak beberapa waktu lalu tertempel selembar cetakan berukuran A4. Isinya perbandingan tarif antara tarif manusia, tarif cumi, seperti yang terlihat dari gambar di atas. Di situ, Simpati disebutkan sebagai tarif manusia dengan kesimpulan bahwa “tarif manusia, wajar masuk akal, puas kualitasnya, puas murahnya.” Kemudian disebelahnya ada Tarif Cumi yang mengacu pada IM3 yang diberi kesimpulan “namanya aja cumi, ya cuma miskal.. mahal siy!”. Terakhir adalah tarif monyet yang mencu pada XL yang diberi kesimpulan “monyet gak bisa ngitung. Ngomong bentar, ngomong lama, kok sama mahalnya”. Read the rest of this entry »
Jeng-Jeng Pangalengan II
Meskipun saya baru pertama kali ke Pangalengan, tapi judul blog ini “Jeng-Jeng Pangalengan II”. Seharusnya I, tapi langsung II karena jeng-jeng yang pertama sudah dilakukan teman2 blogger beberapa waktu yang lalu. Sayang sekali dulu ketika teman2 blogger melakukan jeng-jeng pengalengan, saya tidak bisa hadir. Mereka yang melakukan jeng-jeng Pangalengan I seperti Zam, Iman Brotoseno, Didit, Sarah, Iqbal, dan Gita. Hanya bisa berharap semoga nanti bisa ke sana.
Untungnya kemarin (25-26/8) saya diajak Hitech, salah satu vendor ponsel lokal, untuk Jeng-jeng Pangalengan II. Harapan itupun akhirnya terwujud. Hanya saja, mungkin sampeyan kurang kenal orang-orang yang ikut Jeng-Jeng kedua ini. Karena ini bukan jeng-jengnya blogger, meskipun sebagian yang ikut memiliki blog. Saya juga tidak sempat bertemu dengan mbak Gita Aprikot yang tinggal di daerah sana karena waktu terbatas.
Saya tidak perlu terlalu banyak cerita, karena mereka yang melakukan jeng-jeng pengalengan I sudah menceritakan walaupun rutenya sedikit berbeda dengan sekarang. Jadi, sekarang saya cukup dengan menampilkan screenshot jeng-jeng kemarin. Supaya tidak dibilang Hoax

Memulai perjalanan rafting dari Danau Palayangan

Foto bersama dulu

Waaa tidaaaakk… tiba-tiba perahu terbalik di danau, Help Help!



