Author Archive
Belum Cukup Umur
Minggu pagi menjelang siang, setelah menyiapkan seluruh perlengkapan, saya berangkat dari rumah ditemani istri sampai pos ojek. Setelah itu istri pulang ke rumah dan saya ganti diantar tukang ojek sampai Lenteng Agung. Rencana naik KRL diurungkan karena petugas tiket mengatakan belum ada kabar mengenai keberangkatan KRL ekonomi, adanya kereta AC yang tarifnya Rp 6 ribu. Cuma mau ke Pasar Minggu masa pake yang mahal, maka saya balik ke jalan raya memilih naik angkot.
Ketika naik, saya tertegun sejenak. Sopirnya masih di bawah umur. Saya taksir umurnya masih 15-an atau setara anak SMP. Tak tahu saya apakah ini sudah jadi pekerjaan sehari-hari ataukah disela-sela libur sekolah dan sehabis sekolah saja. Meski sudah 4 tahunan di Jakarta, budaya Jawa – yang ewuh pakewuh – ternyata masih kuat melekat. Tak enak tanya-tanya urusan pribadi, apalagi jaraknya agak jauh dengan sopir dan kondisi ramai.
Anak sekecil itu, dengan suara masih anak kecil tapi tubuhnya mulai membesar, harus berjibaku dengan bekerja keras. Mereka seharusnya masih menikmati masa-masa tumbuhnya menjadi remaja. Maksudnya bukan dengan berhura-hura atau nongkrong di mall seperti yang banyak ditemukan sekarang, tetapi lebih ke belajar dan mengeksplorasi bakat-bakatnya sekaligus pembentukan karakter. Ah.. Mungkin terlalu muluk-muluk. Karena kenyataan tak selalu sesuai impian.
Sopir kecil itu, yang saya yakin belum punya SIM, harus bekerja mungkin karena kondisi ekonomi keluarga yang memaksanya demikian. Tapi itu masih lebih baik. Dia bekerja halal dengan keringatnya sendiri. Dibanding hanya meminta-minta atau mengamen sebagai jalan pintas untuk mencari uang.
Dalam hati saya berdoa, semoga kelak dia jadi orang sukses. Sejak kecil sudah dilatih untuk bekerja keras. Semoga keluarganya tetap menanamkan nilai-nilai luhur dan menjunjung moral dan agama. Tidak terpengaruh dengan kondisi lingkungan yang mungkin saja tak sehat atau tak mendidik. Kita tak pernah tahu nasib orang di masa depan. Tak sedikit orang yang dulunya serba kesusahan dan meraih sukses besar di kemudian hari. Orang-orang besar atau berpengaruh di dunia kebanyakan adalah orang biasa yang tidak dari keluarga berada. Kondisi itu justru menjadi pelecut untuk meraih impian besar. From zero to hero.
Bus Damri Jakarta, 23 Oktober 2011.
Posted with WordPress for BlackBerry.
Infografis tentang Steve Jobs
Steve Jobs, sang legenda dari Apple, belum lama ini mengundurkan diri dari perusahaan yang didirikannya karena alasan kesehatan. Beberapa mahakaryanya dipakai banyak orang seantero dunia, mungkin termasuk kita. Ini ada infografis menarik mengenai perjalanan Steve Jobs membesarkan Apple. Silahkan disimak

Pulang Kampung ke Surga
Seperti halnya mudik lebaran yang butuh bekal memadai, begitu juga mudik ke kampung akhirat.
Mudik kemana pada lebaran tahun ini? Tentu ke kampung halaman. Ada yang ke Jogja, Solo, Semarang, Surabaya, Lampung, Medan dan sebagainya. Saya sendiri pulang ke rumah orang tua di Ponorogo. Warga asli Jakarta dan sekitarnya yang tiap hari pulang ke kampungnya pada lebaran bisa menikmati hari istimewa. Bebas macet!
Tapi benarkah kampung halaman itu adalah tempat di mana kita dilahirkan atau rumah orang tua tinggal? Biasanya kita langsung menjawab “Ya”. Tapi kalau ditelisik lebih lanjut, jawabannya tak hanya sampai di situ. Terima kasih kepada Adhyaksa Dault yang Rabu malam kemarin mengisi ceramah di Masjid Agung Al Azhar. Mantan Menpora ini mengingatkan kepada jama’ah yang I’tikaf di masjid bahwa sebenarnya kita memiliki kampung halaman hakiki, yaitu surga. Kok bisa?
Kalau ditarik ke belakang, maka kita akan menyadari. Orang tua kita mungkin berasal dari daerah yang disebutkan di atas. Pertanyaan berlanjut, dari mana asal orang tuanya bapak kita, orang tuanya kakek, orang tuanya buyut dan seterusnya. Mungkin kita hanya mampu menjawab sampai beberapa level nasab saja. Selebihnya hanya mengira-ngira atau tidak tahu sama sekali. Penganut teori Darwin mungkin akan menganggap bahwa dirinya adalah keturunan kera. Terserah jika mereka berfikir seperti itu. Tapi bagi orang yang beriman percaya sebagai keturunan dari Adam. Dialah manusia pertama yang hidup di bumi. Read the rest of this entry »
Tentang Meraih Kebahagiaan
“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS 13:28).

“Hanya orang-orang dodol yang mengukur kebahagiaan orang lain dari punya pasangan atau tidak,” kata salah seorang rekan saya di status Facebook. Menarik. Kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. Berbagai cara dilakukan untuk memperolehnya. Tapi tidak sedikit yang lupa akan tujuan awalnya sehingga alih-alih mendapatkan kebahagiaan, justru penderiaan yang didapat. Kok bisa?
Pendapat teman saya di atas mungkin ada benarnya. Ada sebagian orang yang menganggap bahwa dengan memiliki pasangan (menikah) berarti telah bahagia, sebaliknya bagi yang belum menikah apalagi yang sudah berumur akan merana kesepian. Padahal hidup tak sesimpel itu. Benar bahwa pernikahan membawa kebahagiaan. Ada banyak keutamaan orang yang menikah dibanding yang lajang. Bahkan Nabi Muhammad pernah dengan tegas bersabda: “menikah itu adalah sunnahku. Siapa yang tidak mau [mengikuti] sunnahku, maka dia bukan termasuk [ummat]ku (HR Imam Al Bukhari dan Muslim). Tapi ini tidak bisa dipahami mentah-mentah. Karena ada yang tidak (belum) menikah karena belum menemukan jodoh, walaupun sudah sangat ingin.
Menikah bisa mendatangkan kebahagiaan. Karena di dalamnya ada cinta dan kasih sayang. Kebahagiaan yang paling mudah dirasakan adalah saat awal-awal pernikahan. Tetapi modal cinta dan kasih sayang tidaklah cukup untuk meraih kebahagiaan yang tahan lama. Karena kalau tidak dirawat, niscaya sedikit demi sedikit rasa itu akan hilang. Menikah itu perlu ilmu yang memadai jika ingin sukses.
Bagaimana dengan yang belum menikah, susahkah untuk memperoleh kebahagiaan? Pada dasarnya tidak. Karena kebahagiaan itu ada dalam hati yang damai. Semua orang, tanpa terkecuali berhak untuk merasakannya.
Banyak hal yang bisa membuat bahagia. Misalnya bersama keluarga tercinta, sahabat terdekat, membuat pencapaian, ketika beramal dan sebagainya. Tetapi ada satu kebahagiaan yang hakiki. Yaitu ketika bisa merasakan kedekatan hubungan dengan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Di saat seperti inilah, maka dunia seolah tiada artinya. Ini adalah resep manjur yang terbukti ampuh. Allah sendiri yang menggaransinya. Seperti yang tertuang dalam QS 13:28,
“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Bagaimana agar selalu merasa dekat dengan Allah? Tentu dengan memperbanyak ibadah dan berdzikir kepada-Nya. Juga senantiasa berbuat baik kepada sesama. Inilah yang sulit. Dan saya masih perlu belajar lebih banyak.
Posted with WordPress for BlackBerry.
Telekomunikasi Indonesia Belum Merdeka
Lima hari yang lalu, bangsa Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-66. Meski tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya karena bertepatan dengan bulan Ramadhan, tetapi semangat membangkitkan nasionalisme tetap terasa termasuk di kalangan netizen. Beberapa aktivis dunia maya menginisiasi upacara bendera digital, yakni gerakan partisipatif anak muda Indonesia yang mem-posting tentang kemerdekaan di Twitter dengan tagar #17an. Selain Twitter, masyarakat juga bisa mengirimkan via SMS ke beberapa nomor yang telah ditentukan.
Boleh kita memperingati kemerdekaan dengan berbagai cara, bahkan itu bagus. Setidaknya upaya ini sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Tetapi, apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka? Secara de facto (hukum), sejak 17 Agustus 1945 secara resmi Indonesia sudah merdeka. Tidak ada bangsa asing yang terang-terangan menduduki negara ini dan menjajahnya dengan cara kekerasan. Tetapi bagaimana kenyataannya (de jure), ini yang perlu dipertanyakan.
Beberapa media mengungkapkan keprihatinan ini. Kompas misalnya, pada Mei silam pernah menulis tentang āEkonomi Indonesia Didominasi Asingā. Berbagai bidang industri di Indonesia tak ada yang bebas dari cengkeraman asing, termasuk telekomunikasi. Masih di Kompas, harian terbesar di Indonesia ini juga pernah menyoroti perlunya ketahanan telekomunikasi di Indonesia akibat masuknya investor asing di sektor telekomunikasi yang tak terhindarkan akibat kebijakan privatisasi pasca krisis ekonomi 1998. Read the rest of this entry »




